Kami belajar meratap dari empat perempuan tua
Tiga tahun lalu kami belum tahu apa itu ratapan. Kami tahu lagu duka, kami tahu doa. Ratapan lain lagi. Ia tidak punya nada yang tetap, tidak punya bait, dan selalu ditujukan langsung kepada orang yang mati, seolah orang itu masih bisa menjawab.
Riset kami mulai dari arsip rekaman lagu rakyat dan berakhir di dapur-dapur desa di tepi sungai. Kami duduk dengan empat perempuan yang masih ingat cara meratap dari ibu dan nenek mereka. Yang paling tua, kami panggil Nenek Hanna, berumur 91 tahun. Ia minta perekam dimatikan dulu sebelum mulai.
Pelajaran pertama: ratapan punya rumus. Peratap memanggil nama si mati, bertanya kenapa ia pergi, menggambarkan jalan yang akan ia tempuh, lalu menyebut siapa yang ditinggal. Isinya berubah untuk tiap orang. Kerangkanya tidak.
Kerangka itu jadi sistem Lament. Yeva tidak mengarang dari nol. Ia mendengar keluarga, mengumpulkan kalimat, lalu memilih mana yang dinyanyikan. Kami sengaja tidak membuatnya jadi permainan ritme. Tidak ada tombol yang harus ditekan tepat waktu. Yang diuji adalah keberanianmu mengatakan yang benar di depan orang yang sedang berduka.
Lalu pertanyaan yang lebih sulit: apa yang terjadi kalau ratapan gagal. Di cerita rakyat yang kami baca, orang yang mati tidak wajar atau tidak diratapi bisa jadi roh air, penunggu rumah, atau sesuatu yang lebih buruk. Kami tidak mau semuanya jadi monster yang tinggal ditebas. Di Birchmourn, roh sungai tetap punya nama, dan keluarganya masih tinggal di desa sebelah.
Dua hal kami jaga. Suara para nenek tidak kami pakai di dalam game; nyanyian Yeva direkam ulang oleh penyanyi yang belajar dari mereka. Kami juga tidak meniru ratapan dari satu desa tertentu. Vel Dorogh negeri karangan. Duka di dalamnya kami usahakan jujur.
Bulan depan kami menulis soal musim: kenapa sungai yang membeku mengubah peta, dan kenapa beberapa arwah hanya bisa ditemui saat es pecah.






